Langsung ke isi
13 Mei 2012 / Chandra Wulan

Never Judge from The Cover Again


Biasanya, pertama kali melihat orang asing (bukan turis ya)… Pikiran macam-macamku akan melintas bolak-balik. Nah… tiba-tiba pas diangkot, naluri sok tau saya muncul. Waktu itu ada laki-laki, tinggi, besar, tattoan di tangan, rambutnya gondrong, pake jaket tebal, jeans biru gelap…

Terus saya terpesona, gitu?? Hahaha…. bukan itu bukan itu…. :p
Wahh… ngeri… pikirku, tapi ngeri lagi kalau orang itu bilang, “Hhhaaaiii…. akika boleh duduk di citu ga?” Kujamin wajahku akan merah padam menahan tawa campur prihatin…. hahahaaa…..
Kok bisa?? Ya bisa, karena saya paling ga tahan lihat banci, mending lihat star ranger yang lagi perang melawan gomma…

Untungnya, beliau diam aja, saya dan penumpang lain tampak pasang wajah siaga… Ngerti aja kan alasannya, maklum waktu itu lagi musim perampokan, penodongan, dan pemerkosaan di angkutan umum. Kalau dilihat dari cara menggenggamnya, tampaknya ibu-ibu megang dompet erat-erat. Bapak-bapak pasang alis tegang menukik plus kerutan maksimal.
Astaghfirullaah…. sudah suudzon tingkat nasional nih…

Aduh-aduh… Katanya praduga tak bersalah…. Penjahat yang sudah kejahatannya terkonfirmasi dan diakui aja, ga boleh dituntut kalau belum ada bukti. Apalagi kasus ini, yang ga ada dialog sama sekali dengan penumpang lain… hmmm…..
Dilangkah pertamanya masuk ke angkot, si laki-laki tadi cuma bermonolog, komat-kamit bilang bismillah… Buset dahh….. gue aja lupa, pas naik tadi, baca bismillah atau ngga….. Waaahhhhh……. saia maluuuu……

23 April 2012 / Chandra Wulan

…..pada Senyum, Menggebu


Entah badut, pelawak, topeng monyet, sirkus, kecerobohan, apa sajalah. Aku perlu sesuatu yang membuatku tertawa. Sudah lama rasanya, aku tak benar-benar tersenyum, apalagi tertawa. Apapun yang kulihat, semua seperti biasa saja. Datar, tak ada yang menarik. Tak ada riuh, tidak juga senyap. Tak tertarik sama sekali. Lebih menarik ranting kering. Ia masih mampu menarik para pencari kayu bakar.

Bisa saja senyum, tapi sesekali, itupun hanya senyum salam. Kata pakar senyum, senyum profesional. Senyum beberapa detik yang tak melibatkan sudut mata. Senyum materialis kah? Tidak kurasa. Bukan juga senyum sinis. Aku ingin senyum tulus, setulus senyum bayi, Duchenne Smile. Spontan. Senyum lepas yang bertahan meski objeknya telah menjauh. Senyum lepas yang bersisa banyak sekalipun objek telah hilang dari pandangan. Senyum yang buat gusarku-gusarmu, terenyuh.

Ambang senyumku kah yang berubah. Aku tidak tahu. Aku memang tak tertarik pada lawakan. Aku tak begitu menyukai acara hiburan. Selera humorku sangat buruk dan aku tidak keberatan jika divonis seperti itu. Apa ini yang membuat hidup terasa kaku? Aku juga tidak tahu. Atau telah diangkat nikmat tertawa bagiku, telah dicabut nikmat tersenyum untukku. Sama saja. Aku tetap tidak tahu.
Artinya hatiku marah sepanjang waktu, begitukah? Sekali lagi, tidak. Sudah kubilang,
semua biasa saja. Sungguh, aku hanya ingin tertawa….

Sesekali kutulis tentang senyum, mungkin yang membaca akan menyangka, aku sedang kampanye senyum. Atau ada yang berfikir, aku adalah pribadi hangat yang menyenangkan. Yang selalu tersenyum kapanpun ditemui. Salah. Itu hanya pertanda, rinduku menggebu pada senyum. Sungguh, senyum itu nikmat. Seperti pagi yang dinanti. Membuat manis muka yang masam. Buat cerah hati yang buram. Lalu menduga, inikah pantulan kekeringan hati, kegalauan jiwa, dan kekacauan pikiran. Entahlah….

“Meski engkau hanya menjumpai saudaramu dengan wajah berseri.”

31 Maret 2012 / Chandra Wulan

Nama


Tak sedikit yang berkata, apalah arti sebuah nama. Tapi tidak bagiku. Aku yakin, di hari kelahiran, beberapa waktu menjelang atau beberapa hari setelah kelahiran seorang anak, para orang tua akan meluangkan waktunya untuk memikirkan nama anaknya. Nama terbaik menurut mereka, nama yang menurut mereka jauh lebih baik dari nama mereka sendiri. Sebuah nama, lebih dari sekedar nama. Buktinya, kalau kita jalan-jalan ke toko buku, sering kita dapati rak khusus untuk buku-buku bertema Nama-Nama Terbaik untuk Bayi Anda. Mulai dari nama yang berasal dari bahasa daerah sampai yang berbahasa asing. Ada juga orang tua yang meminta saran nama yang bagus dari kyai atau tokoh-tokoh yang mereka hormati. Adapula orang tua yang langsung menggunakan nama tokoh-tokoh terkenal untuk nama anaknya. Seperti Edison, Khomeini, Husain, Husni Mubarak, dan lain-lain.

Di dalam nama ada harapan, ada do’a. Kalau namaku Ihsan, pasti orang tuaku berharap aku menjadi seorang anak yang baik, penuh kebaikan. Kalau namaku Untung, jelas…orang tuaku pasti berharap aku selalu beruntung. Kalau namaku Nisa, hampir 100% dipastikan aku perempuan. Kalau namaku Arjuna, mungkin biar aku dapat tempat di dunia pewayangan atau biar aku mempesona.

Yang disayangkan, kok masih banyak anak-anak yang mau dipanggil dengan gelar-gelar buruk oleh teman-temannya. Seandainya gelarnya yang baik-baik, mungkin tak terlalu bermasalah. Kadang ada juga sekelompok anak yang saling memanggil dengan nama binatang, “Eh….Anjing!!! Kamu kemaren kemana? Kok ga datang??” Dan dibalas temannya dengan “Dasar kutu kupret, tengkorak hidup……bla…bla…..bla…”

Aku lebih senang, melihat anak-anak yang protes pada wali kelasnya saat pembagian rapot karena namanya salah tulis, berbeda satu atau beberapa huruf. Itu artinya, mereka memperhatikan namanya, mungkin mereka menyukai namanya.

Apalah arti sebuah nama. Nama itu…akan tertulis di akta kelahiran kita, KTP, Kartu Keluarga, buku nikah, BPKB, buku tabungan, dan nisan kita.

Kalau namaku, dua kata, Chandra dan Wulan. Aku tau, banyak juga laki-laki bernama chandra, tapi kurasa tidak ada lelaki bernama wulan. Tak jarang aku mendapat pesan yang isinya sekedar konfirmasi, “Maaf, kamu itu cowok atau cewek?” Ahhh…tidak…emang saya banci??? hahaha… Pernah, ada yang berpikir, aku adalah seorang lelaki yang punya pacar bernama wulan, lalu karena saking cintanya aku dengan pacarku, maka akun jejaring sosialku kuberi nama dua kata itu. Pernah juga ketika aku berkunjung ke boarding school laki-laki, di buku tamu jelas-jelas kuisi kolom nama siswa dengan nama adikku dan di kolom nama tamu kutulis namaku. Bagusnya…yang dipanggil dengan mikrofon masijd adalah namaku. Kebetulan, temannya bertanya, “Disini ada yang namanya chandra wulan ya???” Hmmm….spontan adikku heran dan berkata, Itu kakakku… Aduh….apa petugasnya ga liat yang nulis di buku itu perempuan, kayaknya ga mungkin namanya diawali kata Muhammad…  -_-

Itu namaku, kalau namamu???? ^_^

15 Februari 2012 / Chandra Wulan

My Breaking Dawn….


Jangan bayangkan Robert Pattinson dan Kristen Stewart ya, karena dawn itu artinya subuh… Jadi setting waktunya subuh alias dini hari, kira-kira kayak waktu Bung Karno dibawa ke Rengasdengklok, oke…?

Langsung aja ya… Seperti yang telah kita peroleh dari pelajaran agama waktu SD, selain shalat fardhu, ada shalat sunnah. Shalat sunnah macam-macam, salah satunya ada yang bernama shalat Tahajud, shalat yang dikerjakan malam hari setelah kita bangun dari tidur malam. Minimal dua rakaat, maksimalnya semau kita. Pokoknya shalat saat kebanyakan orang masih asyik dengan tidur malamnya, itu kata guru agamaku tempo dulu. Sayangnya itu kujadikan pelajaran yang sekedar dipelajari saja, tidak diamalkan…

Beberapa tahun setelah memperoleh materi tahajjud itu, disebuah perbincangan, aku tersentak oleh celetukan teman SMA. Dia bilang begini, “Kamu rajin shalat tahajjud kan….??” Ups…. reaksi pertama adalah freeze, bukan hanya badanku, tapi hati dan pikiranku juga membeku. Bagaimana tidak membeku, seumur-umur saya belum pernah shalat tahajjud. Sekarang malah dikira rajin tahajjud…. Apa-apaan ini, jangan-jangan dia tahu kalau aku belum pernah tahajjud…

Sampai di rumah, aku merenung sejenak, Aduh…. malu juga ya…. Pertanyaan temanku tadi memang tidak kujawab, mungkin karena aku terlalu lama membeku. Akhirnya disuatu malam kuputuskan untuk bertahajjud. Sebagai pemula yang mau kenalan sama yang namanya shalat malam, maka kupasanglah alarm, kebetulan dikamar cuma ada satu jam bekker, jadi cuma pakai alarm jam dan alarm hape. Sebelum jam 10 malam, dengan mantap disettinglah si jam tadi agar ia berbunyi pada pukul 3 dini hari dan alarm hape disetting di jam 3, setengah 4, jam 4, dan setengah 5.

Setelah mensetting alarm, badan ini dibaringkan sambil harap-harap cemas semoga besok bisa benar-benar bangun. Akhirnya… memasuki tidur non-REM, melewati stadium 1… 2…. 3…. 4….. Lalu masuk tidur REM…. Kedua fase tidur itu berulang bergantian hingga tibalah waktunya alarmku berbunyi. Mereka alarm yang baik, mematuhi yang sudah diperintahkan, semua berjalan lancar, tak ada gangguan seperti baterai yang tiba-tiba mati pada pukul 02.59 atau kondisi yang menyebabkan gemanya tak terdengar karena kubekap dengan selimut atau bantal, tidak sama sekali…. Memang, semua berjalan sesuai rencana… Aku juga terbangun, hihiii… Sesuai rencana, kan…

Kumatikan alarm jam bekker, tanganku berusaha mencari hape yang ternyata sudah mendarat lebih dulu di lantai, oke, dapat…. tet… ku non aktifkanlah semua alarm bahkan yang jam 5 subuh juga sudah kumatikan. Setelah puas mematikan semua alarm, aku tersenyum sendiri karena sadar kalau itu memang masih jam 3 subuh.

Tiba-tiba…. ada yang berbisik, bisikan yang tidak kuketahui dari mana munculnya, “hehe…. aku mau pura-pura bobo dulu, jadi setan mengira aku masih bobo…:p”

Sambil senyum-senyum, kulancarkanlah aksi pura-pura tidur. Waktu itu mata kembali kupejamkan tapi pikiranku masih sadar. Beberapa detik berlalu, otakku masih diliputi perasaan menang dan yakin akan bisa mengalahkan si setan dengan aksi pura-pura tidur ini. Seumur hidup, aku baru pertama kali melakukan aksi seperti ini, aksi menipu setan agar setan berfikir bahwa aku masih tidur….

Hmmmm……….. sudah pasti bisa dibayangkan bukan??? Apa yang telah terjadi pada diriku yang sebenarnya tidak sadar bahwa setan berhasil mengajakku kembali tidur…

Benarrrr…… Aku tidur lagi, bahkan lebih nyenyak dari tidur sebelumnya. Aku ketiduran sampai jam 7 pagi…. Jangankan shalat tahajjud, shalat subuh pun luput…

Waktu bangun untuk kedua kalinya, kilauan mentari sudah menerobos jendela kamarku. Semua sudah terang, kutengok jam, haaahhhh…… sudah jam 7…. Baiklah, meskipun itu hari minggu, tapi aku bukan drakula yang takut cahaya dan lagi-lagi aku bangun sambil senyum-senyum…

Tapi ini, bukan senyum kemenangan, cuma pengen senyum aja… Mau nyesal nangis meraung-raung karena sudah menyia-nyiakan bangunku yang pertama, percuma juga… Ya sudahlah… Payah sekali….

Semoga tidak terulang dimasa mendatang nanti….

13 Februari 2012 / Chandra Wulan

Our Expedition (1998 ago)


Senin pagi telah tiba, setelah mendekam di kost selama 2×24 jam… Sepertinya hari ini saya masih memilih mendekam disini aja…. Seperti yang telah kujanjikan pada Sarah, maka akan kutuliskan sebuah kisah nyata, kisah kehidupan kami sebelum ia dilahirkan ke dunia, hihiii….

Suatu hari si Ulan yang masih TK dan belum bisa membaca, membuat janji pada dirinya, “Pokoknya kalau aku sudah bisa membaca, buku apapun itu, harus kubaca sampai habis, jangan sampai ada tulisan yang tak terbaca…”

Nahhh….. entah kenapa, pas aku kelas 2 MI, muncullah keinginan Mamaku tersayang. Keinginan beliau itu langsung disampaikan ke Abahku tercinta. Keinginan beliau adalah, tukarkan gin Ulan buku pintar… dan ibarat gayung bersambut, kata Oke meluncur dari hati Abahku yang paling dalam….

Setelah beberapa hari, diakhir tahun 1998, sebuah buku bercover biru, dengan tebal beberapa ratus halaman, dengan judul Buku Pintar Seri Junior Iwan Gayo, resmi menjadi punya Ulan. Kenapa??? Karena di depannya sudah tertulis Chandra Wulan… berarti itu bukuku… :p

Sesuai janjiku, kubacalah buku itu mulai dari cover, kata pengantar, daftar isi, pokoknya semuanya sampai indeks, bahkan tulisan angka halamannya pun wajib dibaca… Sebelum buku itu habis dibaca, tibalah saya di halaman Penemu Paling Berjasa, gambar depannya bapak-bapak pakai jas hitam dan berkumis tebal.

Beberapa halaman di belakang gambar itu, tertulis nama-nama seperti Albert Einstein, Marconi, Thomas Alva Edison, Marie Curie, Isaac Newton dan masih banyak lagi nama-nama yang sulit saya lafalkan karena nama itu tidak familiar di bumi saijaan, Kotabaru, hehehe… Pokoknya mulai dari foto, nama lengkap, negara asal, kewarganegaraan, masa hidup, dan penemuan, semua tertulis disana..

Yang paling kuingat adalah Alexander Graham Bell, penemu telepon. Apa yang terlintas di benakku???
Hmmm…dalam pikiranku, penemu adalah seseorang yang berpetualang, mencari sesuatu dan mendapatkannya dengan cara menggali. Jadi, aku membayangkan Alexander Graham Bell jalan-jalan pakai baju dan celana coklat muda, sambil membawa cangkul dan tiba disebuah gunung penuh batu, mulai menggali dan menemukan sebuah benda bernama telpon.

Itulah yang saya yakini selama beberapa tahun, dan tentunya bukan hanya saya yang meyakininya, karena kedua adik saya, Ifah dan Wawan menjadi objek penerima ajaran sesat dari saya, hahaha…

Berbekal keyakinan itu, setiap sore, saya ajak mereka jalan-jalan ke sekitar rumah, keliling-keliling mungkin sampai 10 rumah dari rumah kami, dan bagi kaki-kaki mungil kami, itu adalah perjalanan panjang. Kadang-kadang menyusup ke kolongan rumah orang, keluar masuk gang tak dikenal. Pernah kami tiba-tiba berada di bawah jendela rumah orang, kami melakukan penggalian di sana dan tentunya dengan peralatan seadanya (waktu itu kami hanya punya kayu-kayu kecil yang panjangnya tidak sampai 30 cm).

Seorang bapak membuka jendela, beliau terkejut karena tiba-tiba ada tiga anak kecil main tanah di bawah jendelanya. Kami santai saja ketika bapak itu memperhatikan kami. Tapi…. Bapak itu berkata, “Anaknya pak …… (menyebut nama Ayah kami)”

Beberapa detik kemudian, sebagai pemimpin ekspedisi, si Ulan berdiri dan berkata, “Inggih Pak” lalu melanjutkan penggalian tanpa peduli apakah bapak itu masih ingin berbincang dengan kami. Beberapa menit setelah itu, kami pergi karena tidak menemukan sesuatu yang menurut kami istimewa.
Besoknya kami masih melanjutkan ekspedisi, sayangnya masih belum memperoleh apa-apa. Sampai berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, ekspedisi kami masih nihil.

Sebagai tetua, saya selalu menyemangati Ifah dan Wawan agar tetap meneruskan ekspedisi, daaaan…. tibalah saatnya, di samping rumah tetangga, kami ditakdirkan menemukan sebutir telur ayam. “Hmmm….ini hebat” pikir kami. Kami bersihkan telur ayam itu, kami simpan sampai beberapa hari di halaman. Berharap telur itu menetas, mengeluarkan isi di dalamnya… Waktunya telah tiba… telur itu menetas, keluarlah seekor anak ayam berwarna hitam, kondisinya sangat lemah… Secara bergilir, kami cium kulit telur dan anak ayamnya…. Owww Tidakkk…..ini intalu tambuk…. -_-

Ya sudahlah, setidaknya kami sudah menemukan sesuatu, ekspedisi akan tetap dilanjutkan, semoga kami menemukan yang lebih bermanfaat, melebihi radio atau telpon…

Kembali ke anak ayam, kami tetap memeliharanya, setiap hari kami membesuknya, tapi kami bingung, anak ayam ini mau dikasih makan apa…. -_- Jadi, kami memang hanya membesuk, melihat keadaannya, tanpa memberi makanan apapun. Setelah 3 hari, rupanya malaikat Izrail menghampiri anak ayam itu, mencabut nyawanya, dan…. matilah si anak ayam yang telah kami rawat selama 3 hari…

3 hari khusus untuk anak ayam, tak ada ekspedisi dalam 3 hari itu. Setelah kematiannya, dengan wajah-wajah sedih, kami menggali tanah penuh batu-batu besar di samping rumah. Kali ini penggalian bukan untuk ekspedisi penemuan, ini untuk pemakaman anak ayam.

Setelah kami merasa lubang itu cukup untuk ukuran anak ayam, sebagai Director of Expedition, maka saya masukkan anak ayam itu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Lalu kami timbuni lubang itu dengan tanah dan menancapkan sebuah patahan kayu berukuran sekitar 3×7 cm ke atas kuburnya, sebagai nisan.
Setiap sore, sebelum melanjutkan ekspedisi, kami selalu menyempatkan diri untuk berkumpul di kuburan anak ayam yang belum sempat kami beri nama itu. Disana kami berdo’a, semoga anak ayam itu masuk surga…. T_T

#Lalu apa hubungannya dengan Sarah Oreo???
*Hmmmm….. Kadang ketika kami berkumpul di depan tv, kami bernostalgia, cerita bahagia tentang masa lalu, cerita penuh kesan tentang ekspedisi kami, cerita tentang sandal Wawan yang dihanyutkan dengan sengaja di atas sungai kecil karena ingin menguji apakah sandal itu benar-benar ringan dan bisa terapung, cerita tentang Ifah dan Wawan yang sembunyi di kolong rumah, hihiii… cerita tentang kata khusus yang kami ucapkan saat kami mengucapkan sesuatu dalam waktu yang bersamaan, apa kata khususnya?? Tebeimbai tekantut kucing, hahahhaa……
______________________________________________________________
Sementara kami bertiga asyik dengan nostalgia kami, Sarah hanya termenung, sesekali berinterupsi, “Nyaman ai ikam betiga lahir bedahulu… lahir tahun 90an semua, aku aja sorangan lahir tahun 2000 -_-“

5 Februari 2012 / Chandra Wulan

Dalam Angkuh


Dalam keangkuhan, aku tak ingin ada rasa yang berkurang
Dalam keangkuhan, aku tak ingin ada kisah yang terpenggal
Dalam keangkuhan, aku tak ingin ada nada yang terlupa
Dalam keangkuhan, aku tak ingin ada surat tak terbaca
Dalam keangkuhan, aku tak ingin ada titik yang berpindah
Dalam keangkuhan, aku masih ingin segenap cinta

25 Januari 2012 / Chandra Wulan

Lawan


Mengapa seperti kehilangan kata
Apa kau sudah kehilangan nyawa
Ataukah kini ragamu tercecer?

Dalam pantulan langit,
Kenapa kau matikan anak matamu?

Satu bumi juga sama
Hitam putih berganti-ganti
Ahhh…. Itu saja kau pusing….

21 Januari 2012 / Chandra Wulan

Cast: Gue, Ustadz, Warga Kampung, Banci, Titi DJ, Ayu Tingting


Sebutlah sesukamu
Jangan pedulikan telingaku
Abaikan hatiku
Tenang saja
Semua akan baik
Aku gitu lho….
Apaan sih cinta…

Rencananya mau nyari arti cinta di kamus bahasa Indonesia, yang online aja… ngapain nyari di kamus offline, berat tau’. Atau daripada buka kamus, cari di playlist jadul aja, yang judulnya Arti Cinta, siapa tau penjelasannya lengkap. Apaan sih cinta? Cinta itu.. yang anaknya Uya Kuya kan? Yang suka nebak-nebak pikiran orang…. Masa gak tau…

Kalo katanya Mbak Acha Septriasa, Love is Cinta… Mmmmm….. Ketika L = 12, O = 15, V = 22, E = 5 dan C = 3, I = 9, N = 14, T = 20, A = 1, maka 54 = 47, prettt
Ah…. lo pikir ini tes IQ yang sering muncul di buku-buku dengan wajahnya Kakek Einstein sebagai cover??
Btw….kok bahasannya cinta,,, cieee…yang nulis lagi jatuh cinta niyee….
Ihhh….Memangnya cinta itu harus gabung dengan kata jatuh dan membentuk frase yang tak bisa dimaknai lain ya… Falling in Love.. emang harus jatuh…. bleee….. Kejatuhan? Dijatuhi? Terjatuh? Menjatuhi?

Baiklah… Pertamatama
Menurut om Pasha Ungu, cinta adalah misteri dalam hidupku, yang tak pernah ku tau akhirnya. Itu!!! (Bayangkan menjawabnya dengan gayanya Pak Mario yahh ^^)

Jadi gini…
Sebenarnya iseng aja (bacanya kaya gaya seleb yang lagi diwawancara sama kru-nya infotainment…), judul aslinya aja, Daripada Mengisi Insomnia dengan Segelas Kopi, Mending Nulis Ngasal, Biarin Ga Ada Isinya, Minimal Sudah Ngisi Memori Hardisk 17 KB.
Mau ngitung domba, males!!! Mau menghayal yang ngga2, cape dehh… Takkan kubiarkan imaji terlarang mengisi ruang kosongku…. (Kalo mau muntah, muntah aja. Kalo mau ke belakang [baca:mencret], silakan aja)

Wah… di depan pintu, muncul ustadz yang suka nongol di tipi dan bersuara… Kenapa ngga zikiran aja De??? Sebenarnya sempat sih pengen berzikir, tapi secara mendadak aku teringat pesan teman waktu SD dulu. Pesannya ini nih, kondisi keimanan sebanding dengan pangkat setan yang menangani kita… Waktu itu kan ane masih belum ngerti istilah sebanding yang ternyata sama aja dengan berbanding lurus… Berhubung sekarang sudah dewasa muda geetooo….. sekarang… aku ngerti, ternyata maksudnya kalo iman gue kecil, setannya cuma kelas teri… Kalo imannya besar, setannya kelas hiu kaleee….. Terus, kalo ustadznya gendut gimana??? Setannya gendut juga??? Apa-apaan ni,,,,heyhey jangan bawa berat…

Nah…dari wasiat singkat teman gue itu, selama bertahun-tahun, gue tanamkan di kepala, kalo gue ngga akan diganggu setan karena setan juga ga merasa terganggu dengan kehadiran gue. Setan itu cuma terganggu sama kehadiran orang yang rajin sholat, suka ke mesjid, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan wajibnya setiap hari, dsb…

Apesnya, setelah beberapa tahun berlalu, kondisi gue yang dengan pedenya berkata setan ga bakal ganggu gue itu, justru membuat gue dicap sama warga sekampung (kebetulan waktu itu unda tinggal di kampung Banjar). Capnya ini: Iblis beikungan ikam tu. Dasar rese, sama aja mereka bilang gue ini iblis…. Akhirnya, kucoba belajar berzikir (makanya di paragraf sebelumnya kalimat yang ada kata zikir-nya yang gue bold, hihiii), soalnya kasian juga si ayang gue, masa gebetannya iblis….

Aduuuhhhh
… masa’ gue sebut di sini kalo gue zikiran, ntar ketahuan lagi, kan ga enak sama si setan… hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha…..
Arghhh….. nanti ada anak kecil usil ngolokin pake kalimat, “wihh…kaka zikiran…eeehh…tobat ya?”

Buntutnya, pikiran-pikiran itu malah mengurungkan niat gue untuk mencoba berzikir, at least zikiran sebelum tidur… kalo zikiran setiap saat, masih processing nih… tapi belum 1%, soalnya tadi salah memasukkan kode verifikasi…

###Balik lagi, kenapa jadi si aku memunculkan si cinta….
Kebetulan gue suka huruf C, karena gue suka banget sama yang namanya Christina Aguilera…. makanya jadi pengen nulis tentang sesuatu yang berawalan C. Mau nulis tentang cicak, cacing, cempedak, celemek, celana, cilukba, comberan, cemeti, cangkir… ahhh.. apa lagi? Ga rame… mungkin karena bawaan usia ane yang masih terbilang muda…. makanya kujatuhkan pilihan pada kata cinta. Ada cinta laura, ada cinta fitri, ada cinta monyet-nya goliath….

Ahh… pokoknya jangan mikir aneh-aneh, swear!! ngga ada apa-apa kok, pas buka office word, ceritanya mau nulis puisi nih, hahhaa…. Maklum.. terbawa suasana tempo doeloe, waktu diperkenalkan sama tetua sastra, kayak Abdoel Moeis, Sutan Takdir Alisyahbana, Marah Rusli, Achdiat Kartamihardja, Hamka….upsss… Aduh..ketikannya jadi salah asuhan, maksudnya gue dikenalkan dengan penulis puisi. Jadii.. waktu itu kami diperkenalkan sama Chairil Anwar yang terkenal dengan puisi Aku-nya, Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra…dan lain-lain, meskipun ga sempat jabat tangan, gue seneng kok bisa kenal sedikit tentang mereka. Bener gak ya kepanjangan W.S. dari nama W.S. Rendra itu……, kalo ga salah lupa Wolfridus apppa gitu? Kalo ngga salah lupa lagi… pas beliau masuk Islam, W.S. nya diubah jadi Wahyu Sulaiman… Kalo ada yang punya referensi atau biografi beliau, gue pinjem boleh ya….

Kenapa jadi cinta??? Sorry nih jadi bolak-balik, alasannya aneh tapi ini jujur. Waktu gue menancapkan jemari kekar gue di tuts keyboard, tiba-tiba ada sekelompok banci yang lagi beroperasi dan kebetulan lewat depan rumah gue. Mereka lagi mutar lagunya D’Bagindas yang itu tu… ce-i-en-te-a… Tebak!!! Apa yang nyrempet pikiran gue setiap dengar lagu itu?

Otak gue sama sekali ngga membayangkan D’Bagindas lagi nyanyi apalagi membayangkan cowok-cowok ranger yang asik kecrek-kecrekin tamborinnya itu. Memori gue terjerembab ke ingatan masa lalu, gue langsung ingat sama sinetron (yang berjudul cinta) jaman baheula yang diperankan tante Dessy Ratnasari dan om yang bermarga Syah (Ik lupa Attalarik Syah, Atilla Syah, atau apa Syah ya… gue lupa pokoknya [lagi-lagi kalo ga salah, yang jelas, Syah yang gue lupa nama depannya ini pemeran Romo di sinetron Inayah yang soundtracknya lagu Hijau Daun). Sinetron jaman baheula waktu gue masih ingusan, sampai sekarang juga masih ingusan apalagi kalo dingin… Oiya, lagu iring-iringan sinetron ini lagunya Titi DJ… Wahhh… time’s up…. Sudah jam 12 malam teng…. gue harus segera naro sebelah sepatu kaca gue di tangga istana, jadi besok prajurit tinggal jemput gue di rumah dan harus menghadapi nyokap tiri dan sodara tiri gue sebelum nganter gue ke istana…{OuEmJi…kenapa jadi gemulai gini?? hmmm… kenapa jadi kayak cowok ranger}

Waktu telah habis, tapi audience memaksa saya menyanyi sebelum mengakhiri cerita, oke deh… Tapi… saya sayang sama audience, saya tidak sampai hati kalo setelah keluar dari ruangan ini banyak audience yang langsung ke dokter THT, hahaha….

Jadi, biar lebih mantap, langsung saja kita sambut Titi DJ….
Kau satu terkasih… kulihat disinar matamu.. tersimpan kekayaan batinmu…. Didalam senyummu… kudengar bahasa kalbu…. mengalun lembut menggetarkan… ~~~~~~~~~~~~~ Percayalah… hanya diriku paling mengerti… kegelisahan jiwamu kasih… dan arti kata kecewamu… Kasih yakinlah hanya aku yang paling memahami… Besar arti… ~~~~~~~~~~~~~~~ Percayalah……

Sssstttt…….. Lampunya mati….
Ting… Lampu kembali menyala bersamaan dengan munculnya Ayu Tingting, sambil say…”ddo mannayo….”

28 Desember 2011 / Chandra Wulan

###91L4***


Seperti biasa, siang itu saya on the way menuju rumah makan padang. Meski yang saya pesan cuma nasi putih, ayam goreng, dan teh hangat. Tapi siang itu berbeda, saya berpapasan dengan orang gila yang sedang mengatur lalu lintas, kebetulan orang itu wanita yang mungkin usianya menjelang 40-an. Sekarang saya tidak bicara nasi padang yang konon katanya luar biasa pedas, tapi saya bicara tentang gila. Bukan ingin menggosip, hanya ingin menuliskan apa yang tiba-tiba terpikir saat itu.
Gila, baik itu sebagai cap dari masyarakat atau diagnosis dari dokter (tentunya dengan istilah mereka), tetap diperuntukkan bagi mereka yang hilang akal sehatnya. Bukan kata gila yang biasa diungkapkan anak muda untuk menunjukkan sesuatu yang sesuatu bangeeeet gitu, hmmm…..
***
Seseorang yang gila yang tanpa sengaja auratnya terlihat atau (maaf) memang sengaja memperlihatkan auratnya bahkan sampai ke bagian yang paling ditutup, ditertawakan habis-habisan bukan hanya oleh anak-anak dan beberapa pengguna jalan yang iseng, tapi sampai para lelaki yang stand by di pangkalan ojek yang sudah tahu sejak lama bahwa si wanita itu memang gila. Padahal, kehadiran orang gila, seharusnya bisa kita jadikan salah satu sarana menuju alasan, kenapa kita harus bersyukur. Kita dikaruniai Allah akal sehat.
***
Di tepian bumi yang lain, bukan di sekitar rumah makan uda uni….

Ada orang-orang (yang menurut siapapun) tidak gila. Orang-orang yang baligh, berakal sehat, interaksi sosial normal, kognitif masih dalam kondisi baik, dan fisik masih sehat, dengan sengaja memamerkan auratnya bahkan lebih dari orang gila tadi. Saking inginnya mereka mempublikasikan bagaimana sih penampakan tubuhnya, mereka pamernya di depan fotografer yang sedang membawa kamera, lengkap dengan kru-krunya. Habis dijepret atau kejepret, hasilnya dicetak, didistribusikan dalam berbagai bentuk, mulai dari poster, majalah-majalah tertentu, televisi, sampai internet. Pokoknya prinsipnya, salurkan ke media visual.

Konsumennya siapa???
Sejenis aja kok dengan yang melihat orang gila tadi, sama-sama lelaki (khusus bubuhan penikmatnya jua pang, kada semuaan lakian). Bedanya cuma, yang ini disaksikan dengan begitu khidmat. Tak ada berisik tawa yang keluar, selain kata-kata kekaguman, “Waw…. seksi benerrr…. Spain Guitar gan… bohay bener….” dan kalimat-kalimat serupa. Lha, kok saya tau, ya taulah…. reaksi-reaksi gitu kan sering dimunculkan di tivi.
***
Mungkin kita pernah mendengar, “Pena diangkat dari 3 golongan, yaitu anak-anak sampai ia baligh, orang tidur sampai ia bangun, dan orang gila sampai ia sembuh.”
Orang gila tadi, meski telanjang sekalipun, ia bebas dari note-nya malaikat Atid. Sedangkan yang katanya tidak gila, yang memamerkan dengan sengaja…. Otomatis dong, malaikat Atid dapat job, malaikat Raqib jadi nganggur. Ehhh…..tercatat deh di buku kiri….
***
xxxLOG Mungkin mereka tidak tahu atau tak pernah diberi tahu kalau tindakan itu bernilai dosa, tapi tetap, pakai norma manusia sekalipun, tindakan seperti itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan….. yaaa….. kecuali sudah terjadi pergeseran norma secara besar-besaran….
Yang gawat, kalau sudah tahu itu dosa, tetaaaap aja dikerjakan…. Na’udzubillaah….

“Ya Allah… Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai. Tetapkanlah iman kami atas Islam. Matikanlah kami dalam husnul khatimah. Aaamiiin….”

6 Desember 2011 / Chandra Wulan

usiaku BELUM expired (part 1)


Kubuka dompet, tanpa sengaja kartu kecil yang sudah beberapa kali kuperbarui terjatuh. Lima tahun sekali aku ke kantor camat, merevisi KTP. Tidak ada perubahan, yang tertulis tetap namaku, tempat tanggal lahirku, alamatku, dan golongan darahku, 0. Paling-paling yang berubah, status perkawinan. Dulu sempat tertulis, “BELUM KAWIN” tapi sekarang sudah tertulis “KAWIN”. Mungkin ini maksudnya masa berlaku di KTP, selain kemungkinan lain, mungkin agar penduduk tau, siapa nama camatnya sekarang dan bagaimana bentuk tandatangannya. Entahlah, aku tak mengerti administrasi, apalagi birokrasi. Aku hanya mengikuti prosedur, sesuai yang terpampang di papan “ALUR PEMBUATAN KTP”.

Aku sudah tua. Perasaanku kini jauh berbeda dari saat pertama kali aku membuat KTP. Di usia 17 tahun, didampingi Ayahku, waktu itu aku gugup bercampur senang. Sedangkan Ayahku tampak sumringah, anaknya sudah besar, sudah punya KTP, walaupun aku juga yakin, kalau Ayah sibuk memikirkan bagaimana aku menghadapi dunia di masa mendatang, bagaimana nasibku setelah lulus SMA nanti.
*****

Sepulangku dari kantor camat, kusinggahkan mataku pada layar kaca. Kulihat berita, seorang siswa SMA menjuarai lomba debat politik. Pikirku, pasti dia anak seorang politisi hebat, yang rumahnya penuh dengan buku berbau politik. Disusul laporan hasil sementara pertandingan catur internasional tingkat remaja yang dilaksanakan di India. Lain lagi dengan sekelompok mahasiswa yang berhasil menjuarai kontes robot di Jepang. Sudahlah, mereka anak-anak hebat. Orang tuanya pasti bangga padanya.

Kutekan remote, ada sinetron, pemerannya anak-anak. Hmm…kecil-kecil mereka sudah punya penghasilan sendiri. Setidaknya mereka bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Itu juga sebuah prestasi bagi mereka.
Kualihkan ke channel lain, berita kriminal, sepasang pelajar SMP tertangkap basah saat melakukan tindakan asusila di kamar mandi sekolah. Ada lagi, remaja 14 tahun digebuki massa karena menjambret seorang nenek di terminal bus. Dasar anak-anak, mengapa harus menjambret nenek-nenek, apa mereka pikir seorang nenek takkan bisa berlari mengejarnya dan takkan kuat berteriak “Jambreeet Kampreeet”!!! Usia mungkin memang senja, tapi masih kuat kan…
********

Kembali ke aku, aku bukan menyesal dengan hidupku di masa lalu. Jujur saja, usiaku sekarang 48 tahun dan semuanya kulewatkan bak angin semilir. Tak ada yang bisa dikenang kalau aku mati. Mungkin orang-orang tidak akan tahu kalau aku pernah menyesaki bumi beberapa tahun lalu, kalau tidak melihat nisanku.
Kurasa cukup sudah bekerja sebagai karyawan di sebuah industri tekstil dengan gaji yang cukup untuk menghidupi dua anak dan istriku. Tapi baru saja aku terpikir, aku tak mau kalau aku hanya dikenali lewat nisan di makamku.

Bagaimana…. Tidak mungkin aku ikut lomba murid berprestasi tingkat SD, SMP, SMA atau ikut seleksi mahasiswa berprestasi. Apalagi mewakili daerah ke tingkat nasional untuk pertandingan. Ibarat makanan kaleng, tanggal yang tertera di bagian bawahnya sudah kelewat jauh. Ya… seperti itu pula, usiaku sudah expired. Untuk usiaku sekarang, sudah tidak pantas lagi bergelut dengan hal-hal seperti itu. Sebayaku saat ini kebanyakan berkarir di profesi masing-masing saja.

Menjadi calon pemimpin kabupaten??? Ah…mustahil, apapun bentuknya aku tak punya modal. Kemampuan bicara di depan publik, aku tak punya. Kemampuan negosiasi juga tak ada. Keturunan politisi juga tak ada. Apalagi kemampuan finansial untuk kampanye…mana ada. Mau jadi calon independen, siapa juga yang memilih. Toh selama hidup di sini, aku tak punya kontribusi apapun. Membuka usaha baru, aku tak punya modal. Belajar ilmu pengetahuan, kurasa otakku sudah tumpul, memoriku semakin memburuk. Apa yang bisa dikenang dari aku???

Aku tak mampu menuliskan sendiri sejarah hidupku. Apakah kehadiranku hanya untuk mengisi satu kotak kosong dari sebuah pohon keluarga???

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.