Mengapa seperti kehilangan kata
Apa kau sudah kehilangan nyawa
Ataukah kini ragamu tercecer?
Dalam pantulan langit,
Kenapa kau matikan anak matamu?
Satu bumi juga sama
Hitam putih berganti-ganti
Ahhh…. Itu saja kau pusing….
Sebutlah sesukamu
Jangan pedulikan telingaku
Abaikan hatiku
Tenang saja
Semua akan baik
Aku gitu lho….
Apaan sih cinta…
Rencananya mau nyari arti cinta di kamus bahasa Indonesia, yang online aja… ngapain nyari di kamus offline, berat tau’. Atau daripada buka kamus, cari di playlist jadul aja, yang judulnya Arti Cinta, siapa tau penjelasannya lengkap. Apaan sih cinta? Cinta itu.. yang anaknya Uya Kuya kan? Yang suka nebak-nebak pikiran orang…. Masa gak tau…
Kalo katanya Mbak Acha Septriasa, Love is Cinta… Mmmmm….. Ketika L = 12, O = 15, V = 22, E = 5 dan C = 3, I = 9, N = 14, T = 20, A = 1, maka 54 = 47, prettt
Ah…. lo pikir ini tes IQ yang sering muncul di buku-buku dengan wajahnya Kakek Einstein sebagai cover??
Btw….kok bahasannya cinta,,, cieee…yang nulis lagi jatuh cinta niyee….
Ihhh….Memangnya cinta itu harus gabung dengan kata jatuh dan membentuk frase yang tak bisa dimaknai lain ya… Falling in Love.. emang harus jatuh…. bleee….. Kejatuhan? Dijatuhi? Terjatuh? Menjatuhi?
Baiklah… Pertamatama
Menurut om Pasha Ungu, cinta adalah misteri dalam hidupku, yang tak pernah ku tau akhirnya. Itu!!! (Bayangkan menjawabnya dengan gayanya Pak Mario yahh ^^)
Jadi gini…
Sebenarnya iseng aja (bacanya kaya gaya seleb yang lagi diwawancara sama kru-nya infotainment…), judul aslinya aja, Daripada Mengisi Insomnia dengan Segelas Kopi, Mending Nulis Ngasal, Biarin Ga Ada Isinya, Minimal Sudah Ngisi Memori Hardisk 17 KB.
Mau ngitung domba, males!!! Mau menghayal yang ngga2, cape dehh… Takkan kubiarkan imaji terlarang mengisi ruang kosongku…. (Kalo mau muntah, muntah aja. Kalo mau ke belakang [baca:mencret], silakan aja)
Wah… di depan pintu, muncul ustadz yang suka nongol di tipi dan bersuara… Kenapa ngga zikiran aja De??? Sebenarnya sempat sih pengen berzikir, tapi secara mendadak aku teringat pesan teman waktu SD dulu. Pesannya ini nih, kondisi keimanan sebanding dengan pangkat setan yang menangani kita… Waktu itu kan ane masih belum ngerti istilah sebanding yang ternyata sama aja dengan berbanding lurus… Berhubung sekarang sudah dewasa muda geetooo….. sekarang… aku ngerti, ternyata maksudnya kalo iman gue kecil, setannya cuma kelas teri… Kalo imannya besar, setannya kelas hiu kaleee….. Terus, kalo ustadznya gendut gimana??? Setannya gendut juga??? Apa-apaan ni,,,,heyhey jangan bawa berat…
Nah…dari wasiat singkat teman gue itu, selama bertahun-tahun, gue tanamkan di kepala, kalo gue ngga akan diganggu setan karena setan juga ga merasa terganggu dengan kehadiran gue. Setan itu cuma terganggu sama kehadiran orang yang rajin sholat, suka ke mesjid, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan wajibnya setiap hari, dsb…
Apesnya, setelah beberapa tahun berlalu, kondisi gue yang dengan pedenya berkata setan ga bakal ganggu gue itu, justru membuat gue dicap sama warga sekampung (kebetulan waktu itu unda tinggal di kampung Banjar). Capnya ini: Iblis beikungan ikam tu. Dasar rese, sama aja mereka bilang gue ini iblis…. Akhirnya, kucoba belajar berzikir (makanya di paragraf sebelumnya kalimat yang ada kata zikir-nya yang gue bold, hihiii), soalnya kasian juga si ayang gue, masa gebetannya iblis….
Aduuuhhhh
… masa’ gue sebut di sini kalo gue zikiran, ntar ketahuan lagi, kan ga enak sama si setan… hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha…..
Arghhh….. nanti ada anak kecil usil ngolokin pake kalimat, “wihh…kaka zikiran…eeehh…tobat ya?”
Buntutnya, pikiran-pikiran itu malah mengurungkan niat gue untuk mencoba berzikir, at least zikiran sebelum tidur… kalo zikiran setiap saat, masih processing nih… tapi belum 1%, soalnya tadi salah memasukkan kode verifikasi…
###Balik lagi, kenapa jadi si aku memunculkan si cinta….
Kebetulan gue suka huruf C, karena gue suka banget sama yang namanya Christina Aguilera…. makanya jadi pengen nulis tentang sesuatu yang berawalan C. Mau nulis tentang cicak, cacing, cempedak, celemek, celana, cilukba, comberan, cemeti, cangkir… ahhh.. apa lagi? Ga rame… mungkin karena bawaan usia ane yang masih terbilang muda…. makanya kujatuhkan pilihan pada kata cinta. Ada cinta laura, ada cinta fitri, ada cinta monyet-nya goliath….
Ahh… pokoknya jangan mikir aneh-aneh, swear!! ngga ada apa-apa kok, pas buka office word, ceritanya mau nulis puisi nih, hahhaa…. Maklum.. terbawa suasana tempo doeloe, waktu diperkenalkan sama tetua sastra, kayak Abdoel Moeis, Sutan Takdir Alisyahbana, Marah Rusli, Achdiat Kartamihardja, Hamka….upsss… Aduh..ketikannya jadi salah asuhan, maksudnya gue dikenalkan dengan penulis puisi. Jadii.. waktu itu kami diperkenalkan sama Chairil Anwar yang terkenal dengan puisi Aku-nya, Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra…dan lain-lain, meskipun ga sempat jabat tangan, gue seneng kok bisa kenal sedikit tentang mereka. Bener gak ya kepanjangan W.S. dari nama W.S. Rendra itu……, kalo ga salah lupa Wolfridus apppa gitu? Kalo ngga salah lupa lagi… pas beliau masuk Islam, W.S. nya diubah jadi Wahyu Sulaiman… Kalo ada yang punya referensi atau biografi beliau, gue pinjem boleh ya….
Kenapa jadi cinta??? Sorry nih jadi bolak-balik, alasannya aneh tapi ini jujur. Waktu gue menancapkan jemari kekar gue di tuts keyboard, tiba-tiba ada sekelompok banci yang lagi beroperasi dan kebetulan lewat depan rumah gue. Mereka lagi mutar lagunya D’Bagindas yang itu tu… ce-i-en-te-a… Tebak!!! Apa yang nyrempet pikiran gue setiap dengar lagu itu?
Otak gue sama sekali ngga membayangkan D’Bagindas lagi nyanyi apalagi membayangkan cowok-cowok ranger yang asik kecrek-kecrekin tamborinnya itu. Memori gue terjerembab ke ingatan masa lalu, gue langsung ingat sama sinetron (yang berjudul cinta) jaman baheula yang diperankan tante Dessy Ratnasari dan om yang bermarga Syah (Ik lupa Attalarik Syah, Atilla Syah, atau apa Syah ya… gue lupa pokoknya [lagi-lagi kalo ga salah, yang jelas, Syah yang gue lupa nama depannya ini pemeran Romo di sinetron Inayah yang soundtracknya lagu Hijau Daun). Sinetron jaman baheula waktu gue masih ingusan, sampai sekarang juga masih ingusan apalagi kalo dingin… Oiya, lagu iring-iringan sinetron ini lagunya Titi DJ… Wahhh… time’s up…. Sudah jam 12 malam teng…. gue harus segera naro sebelah sepatu kaca gue di tangga istana, jadi besok prajurit tinggal jemput gue di rumah dan harus menghadapi nyokap tiri dan sodara tiri gue sebelum nganter gue ke istana…{OuEmJi…kenapa jadi gemulai gini?? hmmm… kenapa jadi kayak cowok ranger}
Waktu telah habis, tapi audience memaksa saya menyanyi sebelum mengakhiri cerita, oke deh… Tapi… saya sayang sama audience, saya tidak sampai hati kalo setelah keluar dari ruangan ini banyak audience yang langsung ke dokter THT, hahaha….
Jadi, biar lebih mantap, langsung saja kita sambut Titi DJ….
Kau satu terkasih… kulihat disinar matamu.. tersimpan kekayaan batinmu…. Didalam senyummu… kudengar bahasa kalbu…. mengalun lembut menggetarkan… ~~~~~~~~~~~~~ Percayalah… hanya diriku paling mengerti… kegelisahan jiwamu kasih… dan arti kata kecewamu… Kasih yakinlah hanya aku yang paling memahami… Besar arti… ~~~~~~~~~~~~~~~ Percayalah……
Sssstttt…….. Lampunya mati….
Ting… Lampu kembali menyala bersamaan dengan munculnya Ayu Tingting, sambil say…”ddo mannayo….”
Seperti biasa, siang itu saya on the way menuju rumah makan padang. Meski yang saya pesan cuma nasi putih, ayam goreng, dan teh hangat. Tapi siang itu berbeda, saya berpapasan dengan orang gila yang sedang mengatur lalu lintas, kebetulan orang itu wanita yang mungkin usianya menjelang 40-an. Sekarang saya tidak bicara nasi padang yang konon katanya luar biasa pedas, tapi saya bicara tentang gila. Bukan ingin menggosip, hanya ingin menuliskan apa yang tiba-tiba terpikir saat itu.
Gila, baik itu sebagai cap dari masyarakat atau diagnosis dari dokter (tentunya dengan istilah mereka), tetap diperuntukkan bagi mereka yang hilang akal sehatnya. Bukan kata gila yang biasa diungkapkan anak muda untuk menunjukkan sesuatu yang sesuatu bangeeeet gitu, hmmm…..
***
Seseorang yang gila yang tanpa sengaja auratnya terlihat atau (maaf) memang sengaja memperlihatkan auratnya bahkan sampai ke bagian yang paling ditutup, ditertawakan habis-habisan bukan hanya oleh anak-anak dan beberapa pengguna jalan yang iseng, tapi sampai para lelaki yang stand by di pangkalan ojek yang sudah tahu sejak lama bahwa si wanita itu memang gila. Padahal, kehadiran orang gila, seharusnya bisa kita jadikan salah satu sarana menuju alasan, kenapa kita harus bersyukur. Kita dikaruniai Allah akal sehat.
***
Di tepian bumi yang lain, bukan di sekitar rumah makan uda uni….
Ada orang-orang (yang menurut siapapun) tidak gila. Orang-orang yang baligh, berakal sehat, interaksi sosial normal, kognitif masih dalam kondisi baik, dan fisik masih sehat, dengan sengaja memamerkan auratnya bahkan lebih dari orang gila tadi. Saking inginnya mereka mempublikasikan bagaimana sih penampakan tubuhnya, mereka pamernya di depan fotografer yang sedang membawa kamera, lengkap dengan kru-krunya. Habis dijepret atau kejepret, hasilnya dicetak, didistribusikan dalam berbagai bentuk, mulai dari poster, majalah-majalah tertentu, televisi, sampai internet. Pokoknya prinsipnya, salurkan ke media visual.
Konsumennya siapa???
Sejenis aja kok dengan yang melihat orang gila tadi, sama-sama lelaki (khusus bubuhan penikmatnya jua pang, kada semuaan lakian). Bedanya cuma, yang ini disaksikan dengan begitu khidmat. Tak ada berisik tawa yang keluar, selain kata-kata kekaguman, “Waw…. seksi benerrr…. Spain Guitar gan… bohay bener….” dan kalimat-kalimat serupa. Lha, kok saya tau, ya taulah…. reaksi-reaksi gitu kan sering dimunculkan di tivi.
***
Mungkin kita pernah mendengar, “Pena diangkat dari 3 golongan, yaitu anak-anak sampai ia baligh, orang tidur sampai ia bangun, dan orang gila sampai ia sembuh.”
Orang gila tadi, meski telanjang sekalipun, ia bebas dari note-nya malaikat Atid. Sedangkan yang katanya tidak gila, yang memamerkan dengan sengaja…. Otomatis dong, malaikat Atid dapat job, malaikat Raqib jadi nganggur. Ehhh…..tercatat deh di buku kiri….
***
xxxLOG Mungkin mereka tidak tahu atau tak pernah diberi tahu kalau tindakan itu bernilai dosa, tapi tetap, pakai norma manusia sekalipun, tindakan seperti itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan….. yaaa….. kecuali sudah terjadi pergeseran norma secara besar-besaran….
Yang gawat, kalau sudah tahu itu dosa, tetaaaap aja dikerjakan…. Na’udzubillaah….
“Ya Allah… Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai. Tetapkanlah iman kami atas Islam. Matikanlah kami dalam husnul khatimah. Aaamiiin….”
Kubuka dompet, tanpa sengaja kartu kecil yang sudah beberapa kali kuperbarui terjatuh. Lima tahun sekali aku ke kantor camat, merevisi KTP. Tidak ada perubahan, yang tertulis tetap namaku, tempat tanggal lahirku, alamatku, dan golongan darahku, 0. Paling-paling yang berubah, status perkawinan. Dulu sempat tertulis, “BELUM KAWIN” tapi sekarang sudah tertulis “KAWIN”. Mungkin ini maksudnya masa berlaku di KTP, selain kemungkinan lain, mungkin agar penduduk tau, siapa nama camatnya sekarang dan bagaimana bentuk tandatangannya. Entahlah, aku tak mengerti administrasi, apalagi birokrasi. Aku hanya mengikuti prosedur, sesuai yang terpampang di papan “ALUR PEMBUATAN KTP”.
Aku sudah tua. Perasaanku kini jauh berbeda dari saat pertama kali aku membuat KTP. Di usia 17 tahun, didampingi Ayahku, waktu itu aku gugup bercampur senang. Sedangkan Ayahku tampak sumringah, anaknya sudah besar, sudah punya KTP, walaupun aku juga yakin, kalau Ayah sibuk memikirkan bagaimana aku menghadapi dunia di masa mendatang, bagaimana nasibku setelah lulus SMA nanti.
*****
Sepulangku dari kantor camat, kusinggahkan mataku pada layar kaca. Kulihat berita, seorang siswa SMA menjuarai lomba debat politik. Pikirku, pasti dia anak seorang politisi hebat, yang rumahnya penuh dengan buku berbau politik. Disusul laporan hasil sementara pertandingan catur internasional tingkat remaja yang dilaksanakan di India. Lain lagi dengan sekelompok mahasiswa yang berhasil menjuarai kontes robot di Jepang. Sudahlah, mereka anak-anak hebat. Orang tuanya pasti bangga padanya.
Kutekan remote, ada sinetron, pemerannya anak-anak. Hmm…kecil-kecil mereka sudah punya penghasilan sendiri. Setidaknya mereka bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Itu juga sebuah prestasi bagi mereka.
Kualihkan ke channel lain, berita kriminal, sepasang pelajar SMP tertangkap basah saat melakukan tindakan asusila di kamar mandi sekolah. Ada lagi, remaja 14 tahun digebuki massa karena menjambret seorang nenek di terminal bus. Dasar anak-anak, mengapa harus menjambret nenek-nenek, apa mereka pikir seorang nenek takkan bisa berlari mengejarnya dan takkan kuat berteriak “Jambreeet Kampreeet”!!! Usia mungkin memang senja, tapi masih kuat kan…
********
Kembali ke aku, aku bukan menyesal dengan hidupku di masa lalu. Jujur saja, usiaku sekarang 48 tahun dan semuanya kulewatkan bak angin semilir. Tak ada yang bisa dikenang kalau aku mati. Mungkin orang-orang tidak akan tahu kalau aku pernah menyesaki bumi beberapa tahun lalu, kalau tidak melihat nisanku.
Kurasa cukup sudah bekerja sebagai karyawan di sebuah industri tekstil dengan gaji yang cukup untuk menghidupi dua anak dan istriku. Tapi baru saja aku terpikir, aku tak mau kalau aku hanya dikenali lewat nisan di makamku.
Bagaimana…. Tidak mungkin aku ikut lomba murid berprestasi tingkat SD, SMP, SMA atau ikut seleksi mahasiswa berprestasi. Apalagi mewakili daerah ke tingkat nasional untuk pertandingan. Ibarat makanan kaleng, tanggal yang tertera di bagian bawahnya sudah kelewat jauh. Ya… seperti itu pula, usiaku sudah expired. Untuk usiaku sekarang, sudah tidak pantas lagi bergelut dengan hal-hal seperti itu. Sebayaku saat ini kebanyakan berkarir di profesi masing-masing saja.
Menjadi calon pemimpin kabupaten??? Ah…mustahil, apapun bentuknya aku tak punya modal. Kemampuan bicara di depan publik, aku tak punya. Kemampuan negosiasi juga tak ada. Keturunan politisi juga tak ada. Apalagi kemampuan finansial untuk kampanye…mana ada. Mau jadi calon independen, siapa juga yang memilih. Toh selama hidup di sini, aku tak punya kontribusi apapun. Membuka usaha baru, aku tak punya modal. Belajar ilmu pengetahuan, kurasa otakku sudah tumpul, memoriku semakin memburuk. Apa yang bisa dikenang dari aku???
Aku tak mampu menuliskan sendiri sejarah hidupku. Apakah kehadiranku hanya untuk mengisi satu kotak kosong dari sebuah pohon keluarga???
Kita sering membuat perencanaan, paling minimal, setelah ini kita sudah tahu apa yang akan kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya. Mungkin kita bisa kembali sejenak, mengingat bagaimana aktivitas kita sewaktu di bangku sekolah. Dari Senin sampai Sabtu, kita sudah punya perencanaan tetap untuk jadwal pelajaran, setiap satu minggu kita sudah dijadwalkan untuk piket kebersihan kelas, dan setiap akhir semester kita sudah dijadwalkan untuk mengikuti ulangan umum yang akan segera disusul pembagian rapor.
Zaman sekolah dulu…. Klasik, ada berbagai taraf kedisiplinan, diantaranya:
Pelajar yang semua aktivitasnya terjadwal ketat dan selalu dalam pengawasan orang tua, pulang sekolah langsung shalat dan makan siang, dilanjutkan les tambahan, mengerjakan PR, dan mempelajari materi untuk besok.
Pelajar yang aktivitasnya kondisional, kalau tiba-tiba ada rapat guru pukul 10 pagi dan siswa harus dipulangkan mengingat betapa urgennya rapat itu, maka belajarnya hari itu cukup sampai pukul 10, selebihnya tak karuan. Kalau memang ada les tambahan, ya tunggu aja sampai jamnya tiba.
Ada pula pelajar yang tidak pernah peduli jadwal, sekalipun sudah punya jadwal. Biasanya tas sekolahnya besar karena semua buku pelajaran dibawa setiap hari atau mungkin tasnya minimalis karena cukup membawa satu buku pamungkas.
de el el lah….
Kegiatan anak sekolah memang sangat variatif, kalau mau dibuat kunci determinasi, mungkin agak kerepotan mencari persamaan dan perbedaannya. Cukup!!! Itu perencanaan anak sekolah. Beda lagi dengan ibu rumah tangga, bapak-bapak, mahasiswa, dsb….
Teringat trend dulu, kayanya trend aneh, entah siapa trendsetternya. Kalau mau memakai sepatu baru, ga afdol kalo ga mulai Senin, kalau mau pakai tas baru ga afdol kalo ga mulai Senin. Sekalipun dibeli hari Selasa, kalau memang ga darurat, maka akan dengan sabarnya menunggu Senin berikutnya tiba….
Sekarang???
Hehehe…. Kadang-kadang hal itu masih sering dilakukan, meski sadar kalau itu dilakukan tanpa tujuan dan manfaat yang jelas, mungkin maksudnya nyari berkah. I don’t know…..
Padahal kalau mau nyari berkah, Bilang aja kupakai kau dengan Bismillaah….. Selesai….
Tapi ya sudah… itu bukan masalah penting, kapanpun kita mau memulai, itu kebebasan kita. Menunggu Senin, menunggu Januari, atau menunggu tahun dengan angka belakang 1, ga ada yang melarang. Cuma mubazir aja kalau dalam masa penantian ke Senin, ke Januari, atau ke tahun berekor 1 kita hanya mengisinya dengan kalimat, “Nanti Senin kukerjakan kok….”
Ingat… Seringkali, Menunggu tidak membuat waktu kita menyelesaikan pekerjaan menjadi lebih pendek. Apalagi kalau kita memutuskan akan menunggu tahun berekor 1. Bayangkan…. kalau sekarang masih tahun berekor 2, kita akan menunggu 9 tahun…. (Sebenarnya tergantung pekerjaannya juga, kalau usianya memang belum pas, ga mungkin dipaksakan)
Nah… sekarang kan November, sebentar lagi Desember, habis itu tahun baru… Kalau sekarang kita mau buat planning untuk tahun depan, kita menunggu terlalu lama…. masih lebih 1 bulan lho… Misalnya, planning tertulis 20 November 2011, pelaksanaan tertulis 1 Januari 2012, kita mungkin akan berleha-leha selama lebih sebulan, karena belum mepet (truly, mungkin saya aja yang berleha-leha gitu, hehehe). Bagaimana kalau kita buat planning tanggal 24 Zulhijjah 1432 H. dan pelaksanaannya 1 Muharram 1433 H., hahaha…. tinggal beberapa hari aja tu….(Tetap ingat kalau it’s just plan, kalau sisa usia habis, itu urusan Allah swt., setidaknya kita berusaha supaya sisa usia diisi dengan hal-hal yang menurut kita bermanfaat)
[Ets...jangan bilang, “Gue buat planning 31 Desember 2011 dan pelaksanaan akan dimulai 1 Januari 2012” Mepet mampus dah tu.....]
Kita tahu penanggalan Hijriyah mengikuti aktivitas keluarga bulan dan bumi, berbeda dengan penanggalan Masehi atau Gregorian yang mengikuti bumi dan matahari…. Mepet mana, bumi-bulan atau bumi matahari??? Bumi-bulan, kan…. Berarti… kalau kita mengikuti yang lebih mepet, otomatis waktunya lebih pendek alias jadi lebih cepat…
Kalau dengan kalender masehi, insya Allah kalau masih ada sisa umur, kita mempunyai 365 hari pencapaian, sedangkan dengan kalender hijriyah kita punya waktu pencapaian kurang lebih 355 hari, lumayan kan…. Kalau tanding sama orang, kita sudah menang 10 atau 11 hari…
Penanggalan agama kita sendiri lho… Islam….
Percaya deh… Kalau kita pakai punya sendiri (baca:Islam), pasti lebih berkah dan menyenangkan. Coba aja kita makai punya orang lain, apalagi tanpa izin, sudah ga berkah, menyakitkan lagi…. (afwan kalau analoginya malah ga nyambung)
Yakinlah… Semua akan jadi lebih cepat…..
Kita tak perlu menunggu pukul 00.00 untuk mengganti ke tanggal berikutnya….
Aneh kan, kalau kita membuat Daily Activity,
“pukul 00.00 sampai pukul 05.00 kegiatannya : MASIH TIDUR.“ Memulai hari kok dengan masih tidur…
Enak mana, kalau kita memulainya dengan…
“Matahari terbenam pertanda waktu magrib telah tiba dan jadwal kehidupan kita di hari berikutnya telah dimulai dengan SHALAT MAGRIB”
Bandingkan aja….. ^_^
#Wallaahua’lam
Kita sadar kalau kita hidup di zaman high tech. Mau tahu kabar grup piala dunia. Kita tidak perlu terbang kemana-mana, ngurus paspor, beli tiket. Cukup nyalakan tivi, pilih channel yang sedang menyiarkan berita olahraga atau buka yahoo atau kunjungi google. Bebas!! Provider apa saja. Terserah, via komputer, iPad, hape, atau yang lain-lain.
Mau beritanya si April Jasmine dan Ustaz Solmed? Lebih gampang lagi nih. Tunggu aja infotainment, kalau pagi bisa di Go Spot, siang dikit bisa di Silet, kalau mau acara puncak, bisa tunggu sore aja, ada kiss, cek dan ricek. Nah….malamnya, bisa langsung kunjungi sinetron Pesantren dan Rock n Roll di SCTV.
Atau mau berita Reshuffle Kabinet lengkap dengan wasiat-wasiatnya?? Makin gampang kok, justru ini yang paling terarah. Check it di TV One atau Metro TV aja, sudah lebih dari lengkap….
Panggung hidup dunia olahraga, dunia selebriti, dunia politik …. sepertinya benar-benar telah mengindonesia.
Semua tentang mereka, cukup dari tivi dan internet, karena kalau nunggu koran mungkin agak telat. (Ini bukan alasan untuk tidak baca koran)
Setiap panggung punya penontonnya masing-masing. Lihat saja panggung politik, sengaja atau tidak, tetap saja ditonton rakyat. Tapi, cukupkah jika kita belajar hidup dari tiga panggung saja???
________________________________________________________________________
Jika kita menghabiskan 1/3 hari kita di tempat tidur, 1/3 nya di hadapan meja kerja (termasuk kebutuhan primer, seperti shalat, mandi, makan), dan 1/3 nya lagi di depan tivi atau internet (dengan tontonan dominan tiga panggung tadi). Berarti yang mendominasi pemasukan di otak kita, paling-paling kehidupan nyaman si aktor. Bisa saja sesekali tiba diberita penderitaan atau bala kriminal. Sialnya, kalau sudah sampai pada berita kemanusiaan, berita bencana, seolah terprogram, tangan ini memindah channel atau back to home dan membuka page lain, tentang selebriti, lifestyle, otomotif, dan sejenisnya, tak lupa zodiak…(heihei…insya Allah kita ga kaya gini kan… ^_^)
Slogan, Hidup adalah perjuangan, tampaknya memang sebatas slogan. Jelas saja kita hampa ketika hidup hanya diisi hal-hal monoton plus tidak produktif (seperti jika hanya menonton panggung mereka). Kita bukan mesin, kalaupun merasa seperti mesin, berarti suatu saat nanti, kita akan meledak juga dan spontan rusak.
Kita perlu jadi pemeran, kitalah tokoh utama hidup kita, kitalah yang berhak sekaligus wajib memperjuangkan nasib kita kedepan. Bahkan untuk masuk surganya Yang Maha Pengasih pun, kita harus berjuang. Dengan gampangnya, kita memperoleh materi bahwa hidup itu berjuang. Rasulullah menghidupkan Islam dengan perjuangan super. Apalagi cuma Abraham Lincoln yang pernah menghuni Gedung Putih, tentunya juga setelah berkali-kali berjuang dan berkali-kali gagal. Jeleknya, kita lebih sering hanya menyaksikan hasil akhirnya, tanpa tahu bagaimana proses berjuangnya…. Si Einstein saja pernah terdiagnosis autis sebelum divonis genius. Lalu, apa yang ada diantara autis dan genius??? Tentunya, Perjuangan atau Usaha….. yang karena saking besarnya, tak mampu lagi dinyatakan dalam Newton.
Nah,,,yang pasti, untuk bernapas saja kita berjuang menarik napas, walaupun kita sering menganggapnya sebagai sistem yang otomatis. Bukankah menggerakkan diafragma itu perlu perjuangan??? Kita perlu kontraksi otot, dan lagi-lagi kita perlu energi, de-es-te…. Seperti lingkaran yang tak diketahui dimana ujungnya….
Hmmm….. Hidup adalah perjuangan….
Seorang yang tak sadar berjuang untuk sadar. Seseorang yang patah tulang akan berjuang meraih posisi normalnya. Beberapa kisah perjuangan memang bisa kita baca di buku, bisa kita lihat di tivi, bisa kita dengar dari arah manapun. Tapi…. onsetnya cepat durasinya singkat. Atau jangan-jangan ga ada efek apa-apa?? Mungkin!!
Berita kelaparan, korban perang, kelebihan dibalik keterbatasan fisik, memang sangat mudah kita pungut dari dunia maya. Sekali lagi…. Benarkah efeknya lama… Jawabannya masih dua arah, dan tidak mustahil, jawabannya stagnan di posisi nol alias no effect.
Untuk durasi lebih lama, sepertinya kita perlu melihat langsung. Bukan berarti kita terjun langsung jadi korban. Ga usah muluk-muluk, sesekali kita perlu keluar, berhenti mengurung diri di pojok dunia nyata tapi gentayangan di dunia maya. Meluncurlah ke jalan, lihat di trotoar, ada banyak pedagang kaki lima yang selalu main kucing-kucingan dengan Satpol PP (atau sejenisnya). Ada banyak pengasong, diperlakukan seperti buruan, sementara buruan yang paling nyata (baca:koruptor) diperlakukan bak pangeran. Masuk bui sekalipun, fasilitas untuknya tak jauh beda dari di luar bui, pangeran buruan atau buruan jadi pangeran….
Masih di jalan, lihat lagi… ada ribuan penjual mainan yang dengan sabar menjajakan dagangannya dikeramaian pinggiran kota. Dengan teriakan, “Sayang anak… Sayang anak…” Sementara akses game, seperti membalik telapak tangan. Atau anak usia sekolah dengan sekeranjang opak. Atau remaja menor bersama tante germonya, yang sedang dalam proses menuju WTS.
Berjalanlah dengan kaki, lihatlah dengan mata hati, sesekali jadilah perantara rizki sopir angkot. Mungkin di angkot kita temui, wanita dengan bayinya yang sedang sakit, manula yang akan mengambil pensiun, atau korban razia lalu lintas yang menuju rumah untuk mengambil berkas kendaraannya, mungkin juga… pengusaha tajir yang mobilnya mogok di markas angkot. Semua ini tak kan terdeteksi oleh Google Earth, Google Sky, atau CCTV ya…. (wah…kurang tau dah kalo urusan deteksi lacak-lacakan).
Apakah kita menemui hidup yang seperti itu di Google*???
Yang jelas, kita punya berjuta alasan untuk bersyukur. Alhamdulillaah…..
*haruskah Google??? Tidak,,,biar lebih gampang nyebut aja… ^_^
Mamaku sayang
Dimana aku dalam do’amu
Mana peduli aku
Yang jelas
Namamu terpatri disetiap Aaamiiinku
Tapi, kupatri dalam Aaamiiin pun takkan setara
Karena Mama padaku, melebihi aku pada Mama
Aku yakin
Aku adalah kebahagiaan Mama
Dan akan kuyakinkan
Mama adalah kebahagiaanku
Seberkas harapan ditengah kalutnya kehidupan. Iyyaakana’budu wa iyyaakanasta’iin. Aku lepas memaknainya. Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan. Dan, seringkali….
Tuhanku…. Aku perlu ini….
Segera Tuhanku…
Aku yakin Tuhan itu ada…. Sungguh….
Aku perlu itu…
Sekarang Tuhanku….
Kuperintah Tuhanku dari kerendahanku di bumi-Nya. Tak pernah kusadari tingginya ‘Arsy-Nya. Bagiku itu pintaku pada Tuhan. Semesta mendengar. Bumi terdiam mendengar perintahku pada-Nya. Betapa kurang ajarnya aku. Melintas horizon, terdengar suaraku hingga langit-Nya.
Tuhanku…. Aku benar-benar perlu sekarang…..
Dalam kehinaan, aku mengancam-Nya.
“Kalau Engkau tidak memberiku sekarang, Aku takkan lagi menyembah-Mu…”
Kutagih janji-Nya, “Mintalah pada-Ku, niscaya Ku-kabulkan”
Aku lupa, Ia bahkan tak pernah menagih tugasku, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
Adakah Zat-Nya berkurang ketika aku mengancam-Nya…………????
SAMA SEKALI TIDAK!!!!!
Astaghfirullaah……
Dulu, kupikir terminal hanya untuk para transporter ruang dan penyedia jasa. Ternyata juga untuk kasus kriminal. Eh… ternyata lagi, terminal itu tempatnya do’a bertebaran.
Bayangkan,, gue turun dari angkot, disambut do’a. Gue naik angkot lintas kota yang warnanya jingga, lagi-lagi gue disambut dengan do’a. “Keselamatan atasmu…” tergema… ”Mudahan pian selamat….” dan terdengar “Assalamu’alaikum….”
Gue pikir, enak juga ya kalau di angkot, selalu dido’akan, meskipun gue bukan artis. Yaiyalah,,,kalau gue artis, ga bakal dido’akan, tapi dimintai tandatangan plus foto bareng…. (emang… segitunya sama artis??? appa coba…) Atau kalau gue pejabat, ngapain juga gue naik angkot, kan banyak tu kendaraan spesialnya….
Segerombolan anak mendatangi setiap penumpang sambil berkata, “Assalamu’alaikum…”
Baik banget mereka, kenal juga ngga, tapi dengan setianya mereka mendo’akan. Subhanallaah…. Salut gue.
Tapi… yang bikin gue kesel, do’a mereka ni kan bentuknya salam, tapi buat kita yang mendengar hukumnya wajib menjawab. Berarti ngga menjawab sama dengan dosa????
OMyGod….. Bagaimana gue menjawab do’a mereka? Mereka mendo’akan secara bertubi-tubi, lebih bertubi-tubi dari serangan udara yang ada di film perang….
Anggap aja ada tiga anak, anak pertama mengucap salam setiap 3 menit, anak kedua mengucap salam setiap 4 menit, dan anak ketiga mengucap salam setiap 5 menit. Soalnya sekarang adalah dimenit keberapa mereka mengucap salam secara bersamaan???
Itu mah soal KPK, soal sebenarnya adalah….. Gue kan cape kalau harus menjawab salam mereka setiap menit. Sementara mereka ngucapinnya bergiliran…. Artinya, gue harus zikiran wa’alaikumsalam dong….
Mendadak, ada satu anak nyamperin gue, umurnya kira-kira 5 tahun. Dia bilang, “Assalamu’alaikum ka…..” Dalam hati, gue bilang, syukur deh, dia ngga manggil Ibu. Coba aja lu manggil Ibu, gue plototin, hahahaa…. Atau manggil gue Acil…….. hmmmm…………. gue merem aja deh…. Meskipun sekarang sudah dipanggil acil, karena sepupu-sepupu gue sudah banyak yang punya anak…. Tetep aja gue ngga rela….
Masalah panggilan kaka, sebenarnya cuma egoism hati gue aja, pengen kedengaran lebih muda…. >.<
Oke, karena situ manggil gue kaka, gue kasih lu senyum sumringah gue yang jarang diberikan secara cuma-cuma, apalagi waktu itu siang bolong. Plus gue putuskan untuk ngasih pertanyaan singkat.
[Sambil membuka dompet, maksudnya biar dia bertahan di depan gue, jadi gue kan bisa nanya. Ga ikhlas kan???]
Ding… Assalamu’alaikum tu artinya apa???, ucap gue sok lembut….
Spontan ia menjawab dengan jawaban yang tak pernah terlintas dibenakku, tak pernah terbayangkan akan terdengar ditelingaku.
“Minta”
“Oooo….. Minta??? Lain itu ding ai, Assalamu’alaikum tu maksudnya mudahan pian selamat”
Dia malah jawab balik, “Oooo…. Mudahan pian selamat???” Lantas meninggalkanku begitu saja, dengan kalimat do’a yang beraksen tanda tanya….
Maka, ku “Aaaamiiiin……” kan saja lah….
Namaku Zainuddin, panggil aku Udin
Dua puluh tahun sudah kusaksikan hidup beliau
Persis sama dua puluh tahunnya beliau menyaksikan hidupku
Kehadiranku mengubah namanya
Nama yang menghiasi ijazah sekolahnya
Nama yang mengisyarat padanya disetiap undangan sahabat
Panggilannya berganti…
Berganti namaku, Udin…
Di kampungku, yang seperti beliau, bernama abah…
Sekarang, Abah Udin
Sesekali saja beliau dipanggil dengan nama dari kakek
Disetiap panggilan….
“Abah Udin….”
Beliau menoleh dan kudapati wajah bangga, selalu…
“Ya, aku ayahnya….”
Seakan beliau mengisyaratkan itu pada alam
Sebangga itukah kau menjadi ayahnya?
Usik tekukur tua yang tak bosan meniru salam kami
Dimasa depan,
Ketika ia tiba pada kesuksesan
Aku tak perlu, namaku bersamanya
Tak perlu juga, orang-orang memanggilku bersama gelar hebat anakku
Cukup, aku tahu dia anakku
Cukup, dia yakin aku ayahnya

