Ga Cukup dari Google*
Kita sadar kalau kita hidup di zaman high tech. Mau tahu kabar grup piala dunia. Kita tidak perlu terbang kemana-mana, ngurus paspor, beli tiket. Cukup nyalakan tivi, pilih channel yang sedang menyiarkan berita olahraga atau buka yahoo atau kunjungi google. Bebas!! Provider apa saja. Terserah, via komputer, iPad, hape, atau yang lain-lain.
Mau beritanya si April Jasmine dan Ustaz Solmed? Lebih gampang lagi nih. Tunggu aja infotainment, kalau pagi bisa di Go Spot, siang dikit bisa di Silet, kalau mau acara puncak, bisa tunggu sore aja, ada kiss, cek dan ricek. Nah….malamnya, bisa langsung kunjungi sinetron Pesantren dan Rock n Roll di SCTV.
Atau mau berita Reshuffle Kabinet lengkap dengan wasiat-wasiatnya?? Makin gampang kok, justru ini yang paling terarah. Check it di TV One atau Metro TV aja, sudah lebih dari lengkap….
Panggung hidup dunia olahraga, dunia selebriti, dunia politik …. sepertinya benar-benar telah mengindonesia.
Semua tentang mereka, cukup dari tivi dan internet, karena kalau nunggu koran mungkin agak telat. (Ini bukan alasan untuk tidak baca koran)
Setiap panggung punya penontonnya masing-masing. Lihat saja panggung politik, sengaja atau tidak, tetap saja ditonton rakyat. Tapi, cukupkah jika kita belajar hidup dari tiga panggung saja???
________________________________________________________________________
Jika kita menghabiskan 1/3 hari kita di tempat tidur, 1/3 nya di hadapan meja kerja (termasuk kebutuhan primer, seperti shalat, mandi, makan), dan 1/3 nya lagi di depan tivi atau internet (dengan tontonan dominan tiga panggung tadi). Berarti yang mendominasi pemasukan di otak kita, paling-paling kehidupan nyaman si aktor. Bisa saja sesekali tiba diberita penderitaan atau bala kriminal. Sialnya, kalau sudah sampai pada berita kemanusiaan, berita bencana, seolah terprogram, tangan ini memindah channel atau back to home dan membuka page lain, tentang selebriti, lifestyle, otomotif, dan sejenisnya, tak lupa zodiak…(heihei…insya Allah kita ga kaya gini kan… ^_^)
Slogan, Hidup adalah perjuangan, tampaknya memang sebatas slogan. Jelas saja kita hampa ketika hidup hanya diisi hal-hal monoton plus tidak produktif (seperti jika hanya menonton panggung mereka). Kita bukan mesin, kalaupun merasa seperti mesin, berarti suatu saat nanti, kita akan meledak juga dan spontan rusak.
Kita perlu jadi pemeran, kitalah tokoh utama hidup kita, kitalah yang berhak sekaligus wajib memperjuangkan nasib kita kedepan. Bahkan untuk masuk surganya Yang Maha Pengasih pun, kita harus berjuang. Dengan gampangnya, kita memperoleh materi bahwa hidup itu berjuang. Rasulullah menghidupkan Islam dengan perjuangan super. Apalagi cuma Abraham Lincoln yang pernah menghuni Gedung Putih, tentunya juga setelah berkali-kali berjuang dan berkali-kali gagal. Jeleknya, kita lebih sering hanya menyaksikan hasil akhirnya, tanpa tahu bagaimana proses berjuangnya…. Si Einstein saja pernah terdiagnosis autis sebelum divonis genius. Lalu, apa yang ada diantara autis dan genius??? Tentunya, Perjuangan atau Usaha….. yang karena saking besarnya, tak mampu lagi dinyatakan dalam Newton.
Nah,,,yang pasti, untuk bernapas saja kita berjuang menarik napas, walaupun kita sering menganggapnya sebagai sistem yang otomatis. Bukankah menggerakkan diafragma itu perlu perjuangan??? Kita perlu kontraksi otot, dan lagi-lagi kita perlu energi, de-es-te…. Seperti lingkaran yang tak diketahui dimana ujungnya….
Hmmm….. Hidup adalah perjuangan….
Seorang yang tak sadar berjuang untuk sadar. Seseorang yang patah tulang akan berjuang meraih posisi normalnya. Beberapa kisah perjuangan memang bisa kita baca di buku, bisa kita lihat di tivi, bisa kita dengar dari arah manapun. Tapi…. onsetnya cepat durasinya singkat. Atau jangan-jangan ga ada efek apa-apa?? Mungkin!!
Berita kelaparan, korban perang, kelebihan dibalik keterbatasan fisik, memang sangat mudah kita pungut dari dunia maya. Sekali lagi…. Benarkah efeknya lama… Jawabannya masih dua arah, dan tidak mustahil, jawabannya stagnan di posisi nol alias no effect.
Untuk durasi lebih lama, sepertinya kita perlu melihat langsung. Bukan berarti kita terjun langsung jadi korban. Ga usah muluk-muluk, sesekali kita perlu keluar, berhenti mengurung diri di pojok dunia nyata tapi gentayangan di dunia maya. Meluncurlah ke jalan, lihat di trotoar, ada banyak pedagang kaki lima yang selalu main kucing-kucingan dengan Satpol PP (atau sejenisnya). Ada banyak pengasong, diperlakukan seperti buruan, sementara buruan yang paling nyata (baca:koruptor) diperlakukan bak pangeran. Masuk bui sekalipun, fasilitas untuknya tak jauh beda dari di luar bui, pangeran buruan atau buruan jadi pangeran….
Masih di jalan, lihat lagi… ada ribuan penjual mainan yang dengan sabar menjajakan dagangannya dikeramaian pinggiran kota. Dengan teriakan, “Sayang anak… Sayang anak…” Sementara akses game, seperti membalik telapak tangan. Atau anak usia sekolah dengan sekeranjang opak. Atau remaja menor bersama tante germonya, yang sedang dalam proses menuju WTS.
Berjalanlah dengan kaki, lihatlah dengan mata hati, sesekali jadilah perantara rizki sopir angkot. Mungkin di angkot kita temui, wanita dengan bayinya yang sedang sakit, manula yang akan mengambil pensiun, atau korban razia lalu lintas yang menuju rumah untuk mengambil berkas kendaraannya, mungkin juga… pengusaha tajir yang mobilnya mogok di markas angkot. Semua ini tak kan terdeteksi oleh Google Earth, Google Sky, atau CCTV ya…. (wah…kurang tau dah kalo urusan deteksi lacak-lacakan).
Apakah kita menemui hidup yang seperti itu di Google*???
Yang jelas, kita punya berjuta alasan untuk bersyukur. Alhamdulillaah…..
*haruskah Google??? Tidak,,,biar lebih gampang nyebut aja… ^_^

huum kita punya berjuta alasan untuk bersyukur,, dan bersykur tidak hanya ucapan , kita harus melihat dan mencoba merasakan kehidupan orang lain, dan mencoba belajar tuk berbagi..
nice sob..
ada yang bikin ketawa..”pangeran buruan atau buruan jadi pangeran…”
smoga kita sll disadarkan Allah utk bersyukur…Aaamiiin….