Lompat ke isi
22 November 2011 / Chandra Wulan

Happy New Year

Kita sering membuat perencanaan, paling minimal, setelah ini kita sudah tahu apa yang akan kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya. Mungkin kita bisa kembali sejenak, mengingat bagaimana aktivitas kita sewaktu di bangku sekolah. Dari Senin sampai Sabtu, kita sudah punya perencanaan tetap untuk jadwal pelajaran, setiap satu minggu kita sudah dijadwalkan untuk piket kebersihan kelas, dan setiap akhir semester kita sudah dijadwalkan untuk mengikuti ulangan umum yang akan segera disusul pembagian rapor.

Zaman sekolah dulu…. Klasik, ada berbagai taraf kedisiplinan, diantaranya:
Pelajar yang semua aktivitasnya terjadwal ketat dan selalu dalam pengawasan orang tua, pulang sekolah langsung shalat dan makan siang, dilanjutkan les tambahan, mengerjakan PR, dan mempelajari materi untuk besok.
Pelajar yang aktivitasnya kondisional, kalau tiba-tiba ada rapat guru pukul 10 pagi dan siswa harus dipulangkan mengingat betapa urgennya rapat itu, maka belajarnya hari itu cukup sampai pukul 10, selebihnya tak karuan. Kalau memang ada les tambahan, ya tunggu aja sampai jamnya tiba.
Ada pula pelajar yang tidak pernah peduli jadwal, sekalipun sudah punya jadwal. Biasanya tas sekolahnya besar karena semua buku pelajaran dibawa setiap hari atau mungkin tasnya minimalis karena cukup membawa satu buku pamungkas.
de el el lah….

Kegiatan anak sekolah memang sangat variatif, kalau mau dibuat kunci determinasi, mungkin agak kerepotan mencari persamaan dan perbedaannya. Cukup!!! Itu perencanaan anak sekolah. Beda lagi dengan ibu rumah tangga, bapak-bapak, mahasiswa, dsb….

Teringat trend dulu, kayanya trend aneh, entah siapa trendsetternya. Kalau mau memakai sepatu baru, ga afdol kalo ga mulai Senin, kalau mau pakai tas baru ga afdol kalo ga mulai Senin. Sekalipun dibeli hari Selasa, kalau memang ga darurat, maka akan dengan sabarnya menunggu Senin berikutnya tiba….

Sekarang???

Hehehe…. Kadang-kadang hal itu masih sering dilakukan, meski sadar kalau itu dilakukan tanpa tujuan dan manfaat yang jelas, mungkin maksudnya nyari berkah. I don’t know…..

Padahal kalau mau nyari berkah, Bilang aja kupakai kau dengan Bismillaah….. Selesai….

Tapi ya sudah… itu bukan masalah penting, kapanpun kita mau memulai, itu kebebasan kita. Menunggu Senin, menunggu Januari, atau menunggu tahun dengan angka belakang 1, ga ada yang melarang. Cuma mubazir aja kalau dalam masa penantian ke Senin, ke Januari, atau ke tahun berekor 1 kita hanya mengisinya dengan kalimat, “Nanti Senin kukerjakan kok….”

Ingat… Seringkali, Menunggu tidak membuat waktu kita menyelesaikan pekerjaan menjadi lebih pendek. Apalagi kalau kita memutuskan akan menunggu tahun berekor 1. Bayangkan…. kalau sekarang masih tahun berekor 2, kita akan menunggu 9 tahun…. (Sebenarnya tergantung pekerjaannya juga, kalau usianya memang belum pas, ga mungkin dipaksakan)

Nah… sekarang kan November, sebentar lagi Desember, habis itu tahun baru… Kalau sekarang kita mau buat planning untuk tahun depan, kita menunggu terlalu lama…. masih lebih 1 bulan lho… Misalnya, planning tertulis 20 November 2011, pelaksanaan tertulis 1 Januari 2012, kita mungkin akan berleha-leha selama lebih sebulan, karena belum mepet (truly, mungkin saya aja yang berleha-leha gitu, hehehe). Bagaimana kalau kita buat planning tanggal 24 Zulhijjah 1432 H. dan pelaksanaannya 1 Muharram 1433 H., hahaha…. tinggal beberapa hari aja tu….(Tetap ingat kalau it’s just plan, kalau sisa usia habis, itu urusan Allah swt., setidaknya kita berusaha supaya sisa usia diisi dengan hal-hal yang menurut kita bermanfaat)

[Ets...jangan bilang, “Gue buat planning 31 Desember 2011 dan pelaksanaan akan dimulai 1 Januari 2012” Mepet mampus dah tu.....]

Kita tahu penanggalan Hijriyah mengikuti aktivitas keluarga bulan dan bumi, berbeda dengan penanggalan Masehi atau Gregorian yang mengikuti bumi dan matahari…. Mepet mana, bumi-bulan atau bumi matahari??? Bumi-bulan, kan…. Berarti… kalau kita mengikuti yang lebih mepet, otomatis waktunya lebih pendek alias jadi lebih cepat…

Kalau dengan kalender masehi, insya Allah kalau masih ada sisa umur, kita mempunyai 365 hari pencapaian, sedangkan dengan kalender hijriyah kita punya waktu pencapaian kurang lebih 355 hari, lumayan kan…. Kalau tanding sama orang, kita sudah menang 10 atau 11 hari…

Penanggalan agama kita sendiri lho… Islam….

Percaya deh… Kalau kita pakai punya sendiri (baca:Islam), pasti lebih berkah dan menyenangkan. Coba aja kita makai punya orang lain, apalagi tanpa izin, sudah ga berkah, menyakitkan lagi…. (afwan kalau analoginya malah ga nyambung)

Yakinlah… Semua akan jadi lebih cepat…..

Kita tak perlu menunggu pukul 00.00 untuk mengganti ke tanggal berikutnya….

Aneh kan, kalau kita membuat Daily Activity,

“pukul 00.00 sampai pukul 05.00 kegiatannya : MASIH TIDUR.“ Memulai hari kok dengan masih tidur…

Enak mana, kalau kita memulainya dengan…

“Matahari terbenam pertanda waktu magrib telah tiba dan jadwal kehidupan kita di hari berikutnya telah dimulai dengan SHALAT MAGRIB”

Bandingkan aja….. ^_^

#Wallaahua’lam

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.