Lompat ke isi
28 Desember 2011 / Chandra Wulan

###91L4***

Seperti biasa, siang itu saya on the way menuju rumah makan padang. Meski yang saya pesan cuma nasi putih, ayam goreng, dan teh hangat. Tapi siang itu berbeda, saya berpapasan dengan orang gila yang sedang mengatur lalu lintas, kebetulan orang itu wanita yang mungkin usianya menjelang 40-an. Sekarang saya tidak bicara nasi padang yang konon katanya luar biasa pedas, tapi saya bicara tentang gila. Bukan ingin menggosip, hanya ingin menuliskan apa yang tiba-tiba terpikir saat itu.
Gila, baik itu sebagai cap dari masyarakat atau diagnosis dari dokter (tentunya dengan istilah mereka), tetap diperuntukkan bagi mereka yang hilang akal sehatnya. Bukan kata gila yang biasa diungkapkan anak muda untuk menunjukkan sesuatu yang sesuatu bangeeeet gitu, hmmm…..
***
Seseorang yang gila yang tanpa sengaja auratnya terlihat atau (maaf) memang sengaja memperlihatkan auratnya bahkan sampai ke bagian yang paling ditutup, ditertawakan habis-habisan bukan hanya oleh anak-anak dan beberapa pengguna jalan yang iseng, tapi sampai para lelaki yang stand by di pangkalan ojek yang sudah tahu sejak lama bahwa si wanita itu memang gila. Padahal, kehadiran orang gila, seharusnya bisa kita jadikan salah satu sarana menuju alasan, kenapa kita harus bersyukur. Kita dikaruniai Allah akal sehat.
***
Di tepian bumi yang lain, bukan di sekitar rumah makan uda uni….

Ada orang-orang (yang menurut siapapun) tidak gila. Orang-orang yang baligh, berakal sehat, interaksi sosial normal, kognitif masih dalam kondisi baik, dan fisik masih sehat, dengan sengaja memamerkan auratnya bahkan lebih dari orang gila tadi. Saking inginnya mereka mempublikasikan bagaimana sih penampakan tubuhnya, mereka pamernya di depan fotografer yang sedang membawa kamera, lengkap dengan kru-krunya. Habis dijepret atau kejepret, hasilnya dicetak, didistribusikan dalam berbagai bentuk, mulai dari poster, majalah-majalah tertentu, televisi, sampai internet. Pokoknya prinsipnya, salurkan ke media visual.

Konsumennya siapa???
Sejenis aja kok dengan yang melihat orang gila tadi, sama-sama lelaki (khusus bubuhan penikmatnya jua pang, kada semuaan lakian). Bedanya cuma, yang ini disaksikan dengan begitu khidmat. Tak ada berisik tawa yang keluar, selain kata-kata kekaguman, “Waw…. seksi benerrr…. Spain Guitar gan… bohay bener….” dan kalimat-kalimat serupa. Lha, kok saya tau, ya taulah…. reaksi-reaksi gitu kan sering dimunculkan di tivi.
***
Mungkin kita pernah mendengar, “Pena diangkat dari 3 golongan, yaitu anak-anak sampai ia baligh, orang tidur sampai ia bangun, dan orang gila sampai ia sembuh.”
Orang gila tadi, meski telanjang sekalipun, ia bebas dari note-nya malaikat Atid. Sedangkan yang katanya tidak gila, yang memamerkan dengan sengaja…. Otomatis dong, malaikat Atid dapat job, malaikat Raqib jadi nganggur. Ehhh…..tercatat deh di buku kiri….
***
xxxLOG Mungkin mereka tidak tahu atau tak pernah diberi tahu kalau tindakan itu bernilai dosa, tapi tetap, pakai norma manusia sekalipun, tindakan seperti itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan….. yaaa….. kecuali sudah terjadi pergeseran norma secara besar-besaran….
Yang gawat, kalau sudah tahu itu dosa, tetaaaap aja dikerjakan…. Na’udzubillaah….

“Ya Allah… Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai. Tetapkanlah iman kami atas Islam. Matikanlah kami dalam husnul khatimah. Aaamiiin….”

  1. syahru Al Banjari / Des 31 2011 09:39

    seandainya para wanita yg membuka aurat itu tahu apa yang dipirkan para lelaki ketika memandangnya.. Pasti mereka tidak akan membuka auratnya.. nice post Chand… Hehe

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.